CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 24 Mei 2012

PENYAIR



Sebuah puisi untuk seseorang yang selalu merangkai kata tanpa titik temu. Berawal dari puisi, aku menyadari kehadiranmu. Syair yang kau ciptakan selalu menggambarkan keinginanku untuk mengenal dunia lebih jauh. Puisi bernuansa rindu seperti burung yang sedang terpenjara dalam sangkar. Itulah aku. Aku adalah burung yang selalu terpenjara. Selalu sendiri dan menyendiri. Dunia luar begitu asing bagiku. Keramaian yang selalu diciptakan membuatku tak mengerti, dimana aku berada. Tapi lewat syair puisi yang kau goreskan di batu terjal, ku ingin merasakan semua itu disisa umurku ini.
Ketahuilah, ku ingin hidup berdampingan. Berpasangan. Ku ingin hidup dengan orang yang menumbuhkan semangat hidupku. Penyair . Kaulah orangnya. Tak dapatkah kau berhenti sejenak di sangkar ku dan membebaskan aku dari sini. Aku ingin mengepakkan sayapku dan terbang mengelilingi angkasa hanya dengan penyair. Dirimu untuk diriku. Kau bak cahaya yang selalu menerangi tempat peraduanku. Hangat.
Tapi tiba-tiba kau menghilang dengan sekejap mata. Jalan demi jalan aku telusuri. Tak ku dapati kau. Kemana kau pergi? Di sisi gelap kah kau bersembunyi? Atau sisi terang yang kau datangi? Saat kau pergi, aku mengepakkan sayapku yang rapuh dengan sisa tenaga yang dapat aku hasilkan. Kepergianmu membuatku takut jika aku tak dapat bertemu dengan Penyair. Kau yang menuliskan jalan hidup ku. Kau juga yang harus menuliskan akhir dari  perjalanan hidupku.
Kau muncul lagi disaat ku sudah berani menammpakkan diri pada dunia. Kau selalu berkata bahwa aku harus menyapa hangat mentari yang selalu menyinari mataku. Kau bilang aku tak bisa hidup apabila tak melihat mentari. Aku terbentuk dari hangatnya mentari, kemudian menyalurkan segalanya di sekelilingku. Kau percaya bahwa aku pengganti matahari untukku. Kau yakin itu, dan aku harus yakin. Kau tak akan pernah salah. Tapi kau tak jelas adanya. Kau pergi. Kau datang. Pergi lagi. Datang. Aku capek dengan keadaan ini.
Kau menunjukkan satu hal, kau penyair yang tak berujung pada takdir. Kau coba hal baru yang membuatmu hidup. Aku tahu itu. aku menerimamu dengan resiko yang ada. Disisa umurku ini, aku ingin melihatmu menemukan takdir yang kau cari. Aku tak bisa terus-menerus menjadi benalu dalam hidupmu. Aku senang karena sudah mengenal dunia luar bersamamu. Dan disaat aku mati. Terbanglah yang jauh. Tinggalkan aku di sangkar yang baru. Tak ada penjara yang ada hanyalah karangan bunga. Kan kuingat kenangan ini dalam sangkar baruku. Gelap. Tenang. Damai.
Penyair, aku mencintaimu.

0 komentar:

Posting Komentar